#5BukuDalamHidupku: 1. Kitab Tauhid

Review November 12, 2013 Comments: 2

#5BukuDalamHidupku: 1. Kitab Tauhid
karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

klik gambar untuk download

klik gambar untuk download

Ketika saya menyadari bahwa saya tidak lahir dalam keluarga dengan nuansa agama yang kental, saya merasa bahwa mengenal dan membaca buku ini adalah sebuah keajaiban.

Sejak kecil sampai kuliah (bahkan bisa jadi hingga saat ini), saya bukanlah seorang yang taat dalam berurusan dengan Tuhan. Sebagai seorang muslim, hidup saya jauh sekali dari nuansa islami. Meski kota kelahiran saya, Situbondo, dijuluki sebagai kota Santri, di mana memang banyak pondok pesantren bertebaran dari ujung timur sampai barat, tetapi keluarga saya tergolong netral, rumah kami tidak memajang foto wali-wali atau syaikh-syaikh sebagaimana sebagian besar rumah lain di kampung, bahkan sampai SMA pun saya hanya sesekali datang sholat jumat dan nyaris tidak pernah sholat lima waktu. Saya memang pernah mengaji di surau ketika SD-SMP, tapi sebagaimana anak-anak lainnya, yang dimaksud mengaji hanya menghabiskan waktu dari maghrib-isya’ dengan bermain, semacam ritual biasa dari umur anak-anak, untuk kemudian tak menyisakan bekas setelah beranjak remaja.

Ketika pada 2004 saya merantau ke Yogyakarta karena ditakdirkan untuk kuliah di jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada, suasana masih sama. Di tahun pertama tinggal di Jogja, saya menghabiskan waktu ke acara-acara musik metal, hardcore, underground, saya mendapat banyak kenalan anak-anak band cadas, bahkan saya pernah membuat fanzine (selebaran fotokopian) seperti yang dikenal di scene punk saat itu. Barulah memasuki tahun kedua, sebuah perubahan muncul.

Berawal dari melihat acara kajian rutin di masjid dekat tempat tinggal saya, awalnya saya hanya lewat, lalu kadang-kadang ikut sholat di sana, lalu sekali dua kali ikut kajian itu meski sekadar duduk di dekat pintu, dan pergi di tengah-tengah kajian kalau bosan, tapi akhirnya, saya tertarik dengan materi di dalamnya.

Apa yang disampaikan sang ustadz sangat jauh berbeda dari ustadz masa kecil saya di kampung yang hanya mengajarkan shalawatan dan bernyanyi-nyanyi sehabis adzan. Ustadz di Jogja ini pembicaraannya sangat ilmiah, seputar mengenal Allah, memurnikan ibadah, mengenal syirik sebagai dosa paling besar, berhati-hati dengan cabang-cabang syirik semacam ramalan bintang, perdukunan, anggapan sial terhadap sesuatu, dan masih banyak lagi. Bagi saya, ini benar-benar asing. Saya semakin penasaran dan ingin tahu buku yang sebenarnya sedang dijadikan rujukan itu.

“Itu Kitab Tauhid.” kata salah seorang kawan waktu itu.

“Apa dijual bebas?” Tanya saya.

“Tentu saja, sudah diterjemahkan.”

Keesokan harinya, saya langsung ke toko buku ihya’ di daerah Selokan Mataram, dan membeli versi terjemahannya (kemudian saya tahu buku ini juga bisa didownload bebas di internet). Perlu diketahui, itu adalah buku pertama yang saya beli di Jogja. Sebab sebelum itu saya bukan penggemar buku dan bahkan sejak kecil saya membenci perpustakaan.

Sebenarnya, saya sempat merasa was-was karena di Jogja saat itu hangat diliputi isu terorisme, jaringan-jaringan yang merekrut mahasiswa. Saya sempat cemas melihat perempuan-perempuan bercadar yang juga datang kajian. Apakah ini jaringan teroris? Namun ternyata yang mengejutkan, ustadz-ustadz di masjid ini justru keras pada ajaran teroris. Mereka mengingatkan bahwa kaum teroris itu ayatnya benar, tapi dipahami sembarangan, tidak dengan metode para sahabat Nabi. Seperti minum obat, obatnya benar, tapi tak ikut petunjuk pemakaian. Melihat betapa ilmiyahnya penjelasan itu, saya seperti “kecanduan untuk belajar.” Sungguh tidak ada semangat semacam ini dalam diri saya sebelumnya.

Dalam Kitab Tauhid banyak dibahas hal-hal yang sungguh asing bagi saya, sehingga menimbulkan perasaan semacam, “ternyata islam itu seperti ini.” Semua yang tertulis di buku ini hanya ayat dan hadits, tidak ada pemikiran orang lain, sementara sang penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) hanya merapikannya menjadi bab-bab terperinci dan memberi semacam poin-poin penting serta catatan kaki. Buku ini di bagian awalnya membahas tauhid, pengertian dan keutamaannya, lalu menjelaskan lawan dari tauhid, yaitu syirik dan cabang-cabangnya, termasuk yang paling mengejutkan saya, adalah tentang dilarangnya beribadah di kuburan, dilarang menjadikan orang mati sebagai sarana untuk meminta-minta rejeki dan sejenisnya. Ternyata, dari penjelasan di buku ini, “menjadikan orang mati sebagai wasilah” adalah dosa paling awal yang menyebabkan diutusnya Nabi Nuh sebagai Rasul pertama. Di jaman Nabi Adam sudah ada dosa membunuh (Habil-Qabil), tapi dosa itu tak sampai membuat Allah mengutus Rasul, barulah ketika kaum Nuh suka menjadikan orang-orang mati sebagai perantara doa, maka Allah mengangkat Nuh sebagai Rasul untuk mengembalikan mereka ke peribadahan yang murni.

Karena isinya yang menurut saya “berani”, sungguh-sungguh mengungkap kebenaran bukan mencari-cari pembenaran, Kitab Tauhid ini konon sangat dibenci oleh kaum sufi dan para pecinta kubur orang-orang sholih (wali). Kaum yang terusik itu akhirnya mengembuskan fitnah-fitnah keji, semacam menganggap buku ini mengajarkan untuk tidak cinta Nabi, tidak cinta orang sholih, dan fitnah yang paling terkenal adalah memberi julukan “wahabi” pada yang membaca buku ini (“wahabi” mereka arahkan ke syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, tapi mereka ceroboh karena Al Wahhab justru salah satu dr 99 sifat Allah)

Penamaan “wahabi” ini disebarluaskan untuk membuat seolah-olah ini adalah aliran baru yang sesat sehingga orang-orang tak mau membaca buku ini. Padahal melalui Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hanya ingin menjelaskan kebenaran dan mengajak kembali ke islam yang murni sebagaimana dipahami di jaman Rasulullah. “Wahabi” bukan ormas semacam Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, LDII, dan sejenisnya. “Wahabi” tidak punya tanggal didirikan, tidak ada bai’at, tidak ada pengkultusan terhadap tokoh tertentu semacam cium tangan / ngalap berkah, tidak punya iuran rutin, munas rutin, jaket organisasi, tidak punya kantor pusat atau kantor cabang, apalagi mengajarkan membuat bom, tidak ada. Melalui Kitab Tauhid, syaikh hanya berniat menyadarkan saya pentingnya dan cara memurnikan ibadah kepada Allah. Sederhana.

Secara khusus, saya sungguh bersyukur karena terlebih dulu mengenal Kitab Tauhid sebelum saya masuk ke dunia cerpen. Sebab buku ini menjadi benteng saya selama menggeluti dunia cerpen / sastra yang cenderung bebas dan diliputi banyak pemikiran seperti liberal, filsafat, atheis, dan sejenisnya.

Berbekal keterbukaan dan kebebasan dalam dunia sastra, agama sering ditafsirkan dengan seenaknya oleh para pemuja filsafat dan liberal, disesuaikan keinginan dan logika mereka sendiri. Namun karena buku inilah saya bisa menahan untuk tidak ikut-ikut berimajinasi berlebihan / melampaui batas, terutama ketika berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan.

Bagi saya, inilah buku pertama yang benar-benar mengubah hidup saya.***

Advertisements

About darminto030892

State islamic university of sultan syarif kasim riau
Link | This entry was posted in kata kata motivasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s