Biomassa Terbarukan bagi Industri Kimia | Iptek | DW.DE | 06.01.2014

http://www.dw.de/biomassa-terbarukan-bagi-industri-kimia/a-17343704

Advertisements
Posted in kata kata motivasi | Leave a comment

Naskah Doa Syukuran Atas Kesekretariatan dan Kepengurusan KBMP-WK Yogyakarta

Naskah Doa Syukuran Atas Kesekretariatan dan Kepengurusan KBMP-WK Yogyakarta.

Gallery | Leave a comment

Berkurban Atau Aqiqah? Mana Yang Didahulukan?

Berkurban Atau Aqiqah? Mana Yang Didahulukan?

By multaqith on 28 September 2012

oleh: Muhammad Muafa

Assalamu’alaikum.

 Ustadz jika kita belum pernah di aqiqohkan orang tua pada saat bayi namun pada saat ini sbg anaknya telah punya kemampuan ,petanyaan saya mana yang harus didahulukan qurban dulu atau Aqiqah dan apakah pelaksanaan Aqiqah msh tetap d tuntut kewajibannya sampai seumur hidup jika belum d aqiaohkan orang tua.tks.

Wass.ww.

Hp 08569227xxxx

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Hukum menyelenggarakan Aqiqah adalah Sunnah, bukan wajib. Dalil yang menunjukkan adalah hadis yang diriwayatkan Ahmad dari ‘Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwasanya Rasulullah SAW  bersabda;

مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Barangsiapa diantara kalian ada yang suka berkurban (mengaqiqahi) untuk anaknya, maka silakan melakukan. Untuk satu putra dua kambing dan satu putri satu kambing” (H.R.Ahmad)

 

Seandainya menyelenggarakan Aqiqah wajib, maka Rasulullah SAW  tidak akan mengaitkannya dengan “mahabbah” (kesukaan). Lafadz ” Barangsiapa diantara kalian ada yang suka “ menunjukkan bahwa seorang mukallaf bisa melakukannya atau tidak. Karena itu, lafadz ini menjadi qorinah (indikasi) bahwa penyelenggaraan Aqiqah hukumnya Sunnah, bukan Wajib.

Adapun Hadis yang menyatakan bahwa anak digadaikan dengan Aqiqahnya, misalnya hadis berikut;

سنن أبى داود (8/ 17)

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Dari Samurah bin Jundub bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak digadaikan dengan Aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberi nama (H.R.Abu Dawud)

Maka, hadis ini tidak menunjukkan kewajiban Aqiqah tapi hanya menunjukkan Ta’kidul Istihbab (penekanan anjuran) saja.

Waktu penyelenggaraan Aqiqah adalah hari ke-7  dari kelahiran bayi  berdasarkan hadis Samurah di atas. Jika belum memungkinkan maka bisa mengambil hari ke-14  atau ke-21 berdasarkan fatwa Aisyah berikut;

مسند إسحاق بن راهويه (3/ 692)

 أخبرنا يعلى بن عبيد نا عبد الملك عن عطاء عن أبي كرز عن أم كرز قالت قالت امرأة من أهل عبد الرحمن بن أبي بكر إن ولدت امرأة عبد الرحمن غلاما نحرنا عنه جزورا فقالت عائشة : لا بل السنة عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة يطبخ جدولا ولا يكسر لها عظم فيأكل ويطعم ويتصدق يفعل ذلك في اليوم السابع فإن لم يفعل ففي أربع عشرة فإن لم يفعل ففي إحدى وعشرين

“Dari Ummu Karz beliau berkata; Seorang wanita dari keluarga Abdurrahman bin Abubakar berkata;Jika istri Abdurrahman melahirkan seorang putra maka kita akan menyembelihkan untuknya seekor unta. Maka Aisyah berkata; tidak, tetapi sunnahnya adalah; untuk putra dua kambing yang setara dan untuk putri satu kambing. Dimasak dalam keadaan sudah dipotong-potong dan tidak dipatahkan tulangnya. Lalu dimakan, dibuat menjamu, dan dishodaqohkan. Hal itu dilakukan pada hari ke-7, jika tidak maka hari ke-14 jika tidak maka hari ke 21″ (Musnad Ishaq bin Rahawaih)

Fatwa Shahabat meskipun bukan dalil, tetapi dalam kondisi tidak ditemukan dalil maka fatwa Shahabat adalah jenis ijtihad yang paling tinggi karena mereka adalah orang  yang paling dekat dengan Nabi dan mengerti hadis-hadis beliau. Jadi, fatwa Aisyah ini bisa dijadikan sebagai dasar karena mustahil beliau berfatwa tanpa dasar Nash yang beliau ketahui.

Jika sudah lewat hari ke-21i, maka penyelenggaraan Aqiqah tidak disyariatkan karena tidak ada dalil yang menunjukkannya. Tidak bisa diqiyaskan, misalnya menyelenggarakan Aqiqah setiap kelipatan hari ke-7  setelah hari ke-21 (hari ke-28, jk tidak bisa hari ke- 35 dst) karena penyelenggaraan Aqiqah termasuk ibadah dan syariat ibadah harus ditetapkan berdasarkan nash, bukan Qiyas.

Jika menyelenggarakan Aqiqah di antara hari ke-7, 14, dan 21 (misalnya hari ke -3 atau ke-9, atau ke 19) maka Aqiqahnya sah, karena penyebutan hari ke-7 pada hadis Samurah adalah pemilihan waktu yang paling afdhol, bukan pengikat keabsahan Aqiqah. Yang semisal dengan ini adalah persoalan pemberian nama. Berdasarkan hadis Samurah, pemberian nama bayi afdholnya hari ke-7, tapi Nabi sendiri memberi nama putranya yaitu Ibrahim pada hari pertama. Karena itu, penetapan hari ke-7  bukan menjadi syarat sah namun sekedar pemilihan waktu yang paling afdhol.

Jadi, tidak ada syariat Aqiqah setelah hari ke-21, apalagi jika sudah baligh. Adapun riwayat bahwa Nabi mengaqiqahi dirinya sendiri setelah masa kenabian, yaitu;

مسند البزار (2/ 345)

 حَدَّثنا سهيل بن إبراهيم الجارودي أبو الخطاب ، حَدَّثنا عوف بن مُحَمد المراري ، حَدَّثنا عَبد الله بن المحرر ، عَن قَتادة ، عَن أَنَس ؛ أَن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعدما بعث نبيا.

وحديثا عَبد الله بن محرر لا نعلم رواهما أحد ، عَن قَتادة ، عَن أَنَس غيره وهو ضعيف الحديث جِدًّا ، وَإنَّما يكتب من حديثه ما ليس عند غيره.

Dari Anas; Bahwasanya Nabi saw mengaqiqahi dirinya sendiri sesudah diutus menjadi Nabi (H.R.Al-Bazzar)

Maka ini adalah riwayat yang lemah karena ada perawi yang bernama Abdullah bin Al-Muharror. Al-Bazzar mengatakan; dia Dhaif Jiddan (sangat lemah). An-Nawawi mengatakan; hadis ini bathil,sementara Al-Baihaqy menilainya Munkar.

Jadi, tidak ada syariat Aqiqah setelah baligh sebagaimana tidak ada syariat mengaqiqahi diri sendiri.

Adapun berkurban, maka hukumnya Sunnah Mu-akkad (sunnah yang dikuatkan) berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Allah berfirman;

{فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2]

Shalatlah untuk Rabbmu dan berkurbanlah (Al-Kautsar;2)

 

 

Rasulullah saw bersabda;

سنن ابن ماجه (9/ 276)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW  bersabda; Barangsiapa memiliki keluasan (kekayaan) dan tidak berkurban maka jangan mendekati tempat shalat kami” (H.R.Ibnu Majah)

Berdasarkan paparan di atas, yaitu hukum sunnahnya menyelenggarakan Aqiqah (bukan wajib),tidak disyariatkannya Aqiqah setelah baligh, tidak disyariatkannya mengaqiqahi diri sendiri, dan Sunnah Mu-akkadnya berkurban maka lebih tepat jika memilih melakukan kurban tanpa perlu berfikir menyelenggarakan Aqiqah. Wallahu’alam.

Baca juga;

Posted in kata kata motivasi | Leave a comment

#5BukuDalamHidupku: 1. Kitab Tauhid

Review November 12, 2013 Comments: 2

#5BukuDalamHidupku: 1. Kitab Tauhid
karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

klik gambar untuk download

klik gambar untuk download

Ketika saya menyadari bahwa saya tidak lahir dalam keluarga dengan nuansa agama yang kental, saya merasa bahwa mengenal dan membaca buku ini adalah sebuah keajaiban.

Sejak kecil sampai kuliah (bahkan bisa jadi hingga saat ini), saya bukanlah seorang yang taat dalam berurusan dengan Tuhan. Sebagai seorang muslim, hidup saya jauh sekali dari nuansa islami. Meski kota kelahiran saya, Situbondo, dijuluki sebagai kota Santri, di mana memang banyak pondok pesantren bertebaran dari ujung timur sampai barat, tetapi keluarga saya tergolong netral, rumah kami tidak memajang foto wali-wali atau syaikh-syaikh sebagaimana sebagian besar rumah lain di kampung, bahkan sampai SMA pun saya hanya sesekali datang sholat jumat dan nyaris tidak pernah sholat lima waktu. Saya memang pernah mengaji di surau ketika SD-SMP, tapi sebagaimana anak-anak lainnya, yang dimaksud mengaji hanya menghabiskan waktu dari maghrib-isya’ dengan bermain, semacam ritual biasa dari umur anak-anak, untuk kemudian tak menyisakan bekas setelah beranjak remaja.

Ketika pada 2004 saya merantau ke Yogyakarta karena ditakdirkan untuk kuliah di jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada, suasana masih sama. Di tahun pertama tinggal di Jogja, saya menghabiskan waktu ke acara-acara musik metal, hardcore, underground, saya mendapat banyak kenalan anak-anak band cadas, bahkan saya pernah membuat fanzine (selebaran fotokopian) seperti yang dikenal di scene punk saat itu. Barulah memasuki tahun kedua, sebuah perubahan muncul.

Berawal dari melihat acara kajian rutin di masjid dekat tempat tinggal saya, awalnya saya hanya lewat, lalu kadang-kadang ikut sholat di sana, lalu sekali dua kali ikut kajian itu meski sekadar duduk di dekat pintu, dan pergi di tengah-tengah kajian kalau bosan, tapi akhirnya, saya tertarik dengan materi di dalamnya.

Apa yang disampaikan sang ustadz sangat jauh berbeda dari ustadz masa kecil saya di kampung yang hanya mengajarkan shalawatan dan bernyanyi-nyanyi sehabis adzan. Ustadz di Jogja ini pembicaraannya sangat ilmiah, seputar mengenal Allah, memurnikan ibadah, mengenal syirik sebagai dosa paling besar, berhati-hati dengan cabang-cabang syirik semacam ramalan bintang, perdukunan, anggapan sial terhadap sesuatu, dan masih banyak lagi. Bagi saya, ini benar-benar asing. Saya semakin penasaran dan ingin tahu buku yang sebenarnya sedang dijadikan rujukan itu.

“Itu Kitab Tauhid.” kata salah seorang kawan waktu itu.

“Apa dijual bebas?” Tanya saya.

“Tentu saja, sudah diterjemahkan.”

Keesokan harinya, saya langsung ke toko buku ihya’ di daerah Selokan Mataram, dan membeli versi terjemahannya (kemudian saya tahu buku ini juga bisa didownload bebas di internet). Perlu diketahui, itu adalah buku pertama yang saya beli di Jogja. Sebab sebelum itu saya bukan penggemar buku dan bahkan sejak kecil saya membenci perpustakaan.

Sebenarnya, saya sempat merasa was-was karena di Jogja saat itu hangat diliputi isu terorisme, jaringan-jaringan yang merekrut mahasiswa. Saya sempat cemas melihat perempuan-perempuan bercadar yang juga datang kajian. Apakah ini jaringan teroris? Namun ternyata yang mengejutkan, ustadz-ustadz di masjid ini justru keras pada ajaran teroris. Mereka mengingatkan bahwa kaum teroris itu ayatnya benar, tapi dipahami sembarangan, tidak dengan metode para sahabat Nabi. Seperti minum obat, obatnya benar, tapi tak ikut petunjuk pemakaian. Melihat betapa ilmiyahnya penjelasan itu, saya seperti “kecanduan untuk belajar.” Sungguh tidak ada semangat semacam ini dalam diri saya sebelumnya.

Dalam Kitab Tauhid banyak dibahas hal-hal yang sungguh asing bagi saya, sehingga menimbulkan perasaan semacam, “ternyata islam itu seperti ini.” Semua yang tertulis di buku ini hanya ayat dan hadits, tidak ada pemikiran orang lain, sementara sang penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) hanya merapikannya menjadi bab-bab terperinci dan memberi semacam poin-poin penting serta catatan kaki. Buku ini di bagian awalnya membahas tauhid, pengertian dan keutamaannya, lalu menjelaskan lawan dari tauhid, yaitu syirik dan cabang-cabangnya, termasuk yang paling mengejutkan saya, adalah tentang dilarangnya beribadah di kuburan, dilarang menjadikan orang mati sebagai sarana untuk meminta-minta rejeki dan sejenisnya. Ternyata, dari penjelasan di buku ini, “menjadikan orang mati sebagai wasilah” adalah dosa paling awal yang menyebabkan diutusnya Nabi Nuh sebagai Rasul pertama. Di jaman Nabi Adam sudah ada dosa membunuh (Habil-Qabil), tapi dosa itu tak sampai membuat Allah mengutus Rasul, barulah ketika kaum Nuh suka menjadikan orang-orang mati sebagai perantara doa, maka Allah mengangkat Nuh sebagai Rasul untuk mengembalikan mereka ke peribadahan yang murni.

Karena isinya yang menurut saya “berani”, sungguh-sungguh mengungkap kebenaran bukan mencari-cari pembenaran, Kitab Tauhid ini konon sangat dibenci oleh kaum sufi dan para pecinta kubur orang-orang sholih (wali). Kaum yang terusik itu akhirnya mengembuskan fitnah-fitnah keji, semacam menganggap buku ini mengajarkan untuk tidak cinta Nabi, tidak cinta orang sholih, dan fitnah yang paling terkenal adalah memberi julukan “wahabi” pada yang membaca buku ini (“wahabi” mereka arahkan ke syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, tapi mereka ceroboh karena Al Wahhab justru salah satu dr 99 sifat Allah)

Penamaan “wahabi” ini disebarluaskan untuk membuat seolah-olah ini adalah aliran baru yang sesat sehingga orang-orang tak mau membaca buku ini. Padahal melalui Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hanya ingin menjelaskan kebenaran dan mengajak kembali ke islam yang murni sebagaimana dipahami di jaman Rasulullah. “Wahabi” bukan ormas semacam Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, LDII, dan sejenisnya. “Wahabi” tidak punya tanggal didirikan, tidak ada bai’at, tidak ada pengkultusan terhadap tokoh tertentu semacam cium tangan / ngalap berkah, tidak punya iuran rutin, munas rutin, jaket organisasi, tidak punya kantor pusat atau kantor cabang, apalagi mengajarkan membuat bom, tidak ada. Melalui Kitab Tauhid, syaikh hanya berniat menyadarkan saya pentingnya dan cara memurnikan ibadah kepada Allah. Sederhana.

Secara khusus, saya sungguh bersyukur karena terlebih dulu mengenal Kitab Tauhid sebelum saya masuk ke dunia cerpen. Sebab buku ini menjadi benteng saya selama menggeluti dunia cerpen / sastra yang cenderung bebas dan diliputi banyak pemikiran seperti liberal, filsafat, atheis, dan sejenisnya.

Berbekal keterbukaan dan kebebasan dalam dunia sastra, agama sering ditafsirkan dengan seenaknya oleh para pemuja filsafat dan liberal, disesuaikan keinginan dan logika mereka sendiri. Namun karena buku inilah saya bisa menahan untuk tidak ikut-ikut berimajinasi berlebihan / melampaui batas, terutama ketika berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan.

Bagi saya, inilah buku pertama yang benar-benar mengubah hidup saya.***

Link | Posted on by | Leave a comment

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
line-height:150%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Ya aku lupa

Niat baik tak sellu di nilai baik.

Cpat atau lambat aku akan mninggalkannya

Ini lah aku,,

Sampai saat ini aku msih dapt bertahan mski di bawa tekanan, cacian, makian dan tuduhan,

Tp aku sadar akan sllu salah jika trus aku lakukan

Tk ada yang dapat aku lakukan karna keberaddaan ku jga tk di harapkan

Mungkin skarang lah saat nya,,,  aku harus pergi menapakn kaki di kehidupan yg baru

Tidak nanti atau esok tpi dtik ini.

Aside | Posted on by | Leave a comment

Sepasang : Sepatu

http://afie9.blogspot.com/2013/12/sepatu.html?m=1

Gallery | Leave a comment

Kampus ku

This gallery contains 1 photo.

Gallery | Leave a comment